Sabtu, 25 Oktober 2008

Kuda besi yang telah lama berkarat
Namun banyak di Gemari

Siang itu, minggu (27/4), kuda-kuda besi itu berjajar rapi di depan basecamp mereka di jalan Arga Pangrango D5 No.8 komplek Arga Baja Cilegon. Bak seorang anak kecil motor-motor tua itu dirawatnya penuh dengan kelembutan. Fisiknya yang lemah dan butuh perawatan ekstra ini membuat sang pemilik kebingungan. Tapi, itulah motor tua semakin langka justru semakin dicari dan disayang penggemarnya. ***

Jalan beriringan motor-motor tua itu melangkah penuh pasti menyusuri jalan-jalan protocol kota ini. Gas buang mereka pun terus memenuhi langit kota hitam dan pekat. Walau sudah tua tapi kuda besi mereka dapat melaju dengan gagah dijalanan. Motor tua itu, atau biasa mereka menyebutnya kuda besi berkarat, telah lama mereka miliki. Ada yang sudah puluhan tahun atau dari warisan orangtua mereka.

Tak jarang mereka membawa sang kuda besi tua itu ke luar kota. Karena mereka ingin kuda besi kesayangan mereka berjalan jauh. Riwayat kuda besi berkarat itu amat sangat memprihatinkan awalnya, namun di tangan dingin komunitas motor tua ini sang kuda besi tua itu, dibuat layak berjalan lagi dijalanan.

Cerita pak sarijan berikut ini mungkin akan menginspirasi kita untuk dapat memanfaatkan barang rongsokan. “Awalnya saya hanya merasa kasihan sama teman yang ingin menjual motornya yang mirip sekali seperti barang rongsokan. Kemudian pada saat melihatnya pak sarijan merasa iba terhadap kuda besi berkarat itu. Lalu ia berinisiatif membeli kuda besi tersebut dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Rp 500 ribu. Dengan keyakinan yang ia miliki bahwa kuda besi itu dapat berjalan kembali maka ia memperbaikinya dengan bantuan teman, motor tersebut dapat kembali berjalan, ujar lelaki paruh baya ini.”

Yang membuat beda memiliki motor tua dengan motor yang lain adalah keunikan bentuk fisik serta perawatannya terbilang cukup rumit. Tak hanya begitu, spare part motor ini pun sangat sulit sekali dicari. Kebanyakan hanya ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain-lain.

Pengalaman memiliki motor tua juga dirasakan oleh Aldo. Karyawan swasta ini mengaku sangat menyenangkan memiliki motor tua. Motor Honda keluaran tahun 70an yang ia miliki didapatnya pada saat ia sedang jalan-jalan disekitaran kompek BBS Cilegon ada sebuah motor yang bersandar dekat pagar halaman rumah tersebut. Ia kemudian berniat membeli motor itu keesokan harinya. Lalu dengan jurus tawar menawar ia dapatkan motor tersebut dengan harga Rp 600 ribu, tanpa aksesoris. Motor tersebut kemudian ia perbaiki lagi dari hasil jerih payahnya. Kecintaannya terhadap motor membuatnya melakukan hal apa saja untuk terus memperbaiki kembali motor kesayangannya itu.

”saya sampai muter-muter Jakarta untuk nyari spare part dan aksesori aslinya. Kan dah lumayan langka banget, bayangin aja jarang sekali toko yang mau ngejual barang yang udah jarang dicari orang. Makanya paling saya cari di tukang loak sekitaran Fatmawati Jakarta, itu juga kalo lagi untung kalo ga ya terpaksa pulang dengan tangan kosong. Tapi ya, itu rasanya punya motor tua perjuangan untuk ngebangun jadi bener lagi itu, yang harganya mahal. Kan kepuasan batin itu susah dibayar pake apa pun. yang penting puas ngeliat motor sekarang, keren banget, ungkap Aldo.”

Karena hal tersebut pada tahun 2007 kemarin, tepatnya (14/2) pak Sarijan, Aldo dan teman-teman yang lainnya berinisiatif mendirikan sebuah perkumpulan yang berisi motor-motor tua dari tahun 60-70an. Ada satu hal yang unik, mereka menyebut motor kesayangan mereka dengan kuda besi tua. Tak hanya itu, biasanya setiap klub motor mengadakan touring untuk menjelajah daerah-daerah terpencil, dalam klub motor ‘Scrap T Boner’ ini mereka menyebutnya dengan karnaval. Karena laju motor mereka yang terkesan lambat. Mereka membuat wadah bagi para pecinta motor tua khususnya Honda untuk saling bertukar informasi tentang apa pun yang berkaitan dengan motor tua itu. Jika terus dilestarikan maka keberadaan motor tua akan selalu ada. Dengan motivasi tersebut mereka yakin anggota klub motor mereka juga akan dikenal serta banyak peminatnya tidak hanya sekitar Banten, tapi seluruh Nusantara.